Mungkin lebih baik menjadi patung yang tidak bergeming,
Diberakin burung,
Dikencingi orang,
bahkan diludahi.
Karena patung tak berjiwa
Daripada menjadi manusia,
tapi tidak dihargai sama sekali tindakan yang dilakukannya
[MW, 11 Pebruari 2007, 22:23]
Monday, February 12, 2007
Thursday, February 08, 2007
Aku bersuara lirih:
Kau dengar? Suara hujan seperti sedang bercengkrama dengan kita.
Ia seperti sedang merajut kisah tentang alam, menceritakannya pada kita. Pada bumi. Pada gedung. Pada daun-daun yang basah mengkilap.
Dia menjawab dalam helaan napasnya:
Bagiku, hujan hanyalah awan yang bertransformasi menjadi air karena kejenuhannya. Tidak lebih dan tidak kurang.
Aku tersenyum:
Hujan tidak seperti matahari, yang telah mengikat janji dengan semua makhluk. Janji yang membuatnya kesepian.. Hujan datang dan pergi demikian adanya. Tidak ada pengikat. Tidak ada yang mengikat. Seperti angin. Kau tak dapat memanggilnya mengembus jendelamu. Ia bertiup melewati jendelamu karena ia memang ingin melewatinya.
Dia membalas:
Seperti juga... kita?
Aku tersenyum lagi:
Aku mencintaimu. Dan cinta tidak pernah mengikat... Kau tak pernah terikat, dan tak pernah mengikat.
Kau bebas pergi ke mana pun kau mau.
Tapi..
Aku akan tetap di tempat semula.
Dia terdiam dan merebahkan dirinya ke lenganku...
Poem by Esdoubleu,
======
Thanks E for contributing :)
Kau dengar? Suara hujan seperti sedang bercengkrama dengan kita.
Ia seperti sedang merajut kisah tentang alam, menceritakannya pada kita. Pada bumi. Pada gedung. Pada daun-daun yang basah mengkilap.
Dia menjawab dalam helaan napasnya:
Bagiku, hujan hanyalah awan yang bertransformasi menjadi air karena kejenuhannya. Tidak lebih dan tidak kurang.
Aku tersenyum:
Hujan tidak seperti matahari, yang telah mengikat janji dengan semua makhluk. Janji yang membuatnya kesepian.. Hujan datang dan pergi demikian adanya. Tidak ada pengikat. Tidak ada yang mengikat. Seperti angin. Kau tak dapat memanggilnya mengembus jendelamu. Ia bertiup melewati jendelamu karena ia memang ingin melewatinya.
Dia membalas:
Seperti juga... kita?
Aku tersenyum lagi:
Aku mencintaimu. Dan cinta tidak pernah mengikat... Kau tak pernah terikat, dan tak pernah mengikat.
Kau bebas pergi ke mana pun kau mau.
Tapi..
Aku akan tetap di tempat semula.
Dia terdiam dan merebahkan dirinya ke lenganku...
Poem by Esdoubleu,
======
Thanks E for contributing :)
Monday, January 15, 2007
TAK TERJAWAB
Aku menulis:
Debu-debu beterbangan dengan ceria, melayang tanpa menyadari akan mengotori udara yang sudah sangat sumpek ini.
Aku duduk terdiam melihat para debu bercengkrama mesra diawang-awang
Jawabnya:
Harapan, keinginan dan kenyataan menjadi tak berujung dikala semua ingin diraih sekaligus.
Aku hanya bisa melakukan & bersabar atas semua 'proses' itu
Aku membalas:
Bersabar adalah salah satu meditasi diri terindah yang pernah dilakukan oleh anak manusia.
Selama proses itu dilakukan dalam penuh kesadaran.
Tapi kenyataan adalah kenyataan, tak ada yang dapat mengubah kenyataan, kecuali harapan yang ada dalam hati dapat terpenuhi...
Dia membalas:
Tapi ingat..
Kesadaran lahir dari dalam jiwa. Dia tak dapat dipaksakan atau dia akan terus terbelenggu dengan setiap fenomena yang muncul!
Akhirnya..hanya kehampaan!
Balasku:
Saat anak manusia melakukan tindakan atas dasar kesadaran jiwa,
maka tidak akan ada namanya kehampaan dalam keterpaksaan.
Namun, hanya tinggal mengikuti kemana kesadaran jiwa bertiup & melangkah selayaknya angin...
Dia terdiam hanya terdiam tidak menjawab apapun...
[JHCC, 12 Januari 2006, 18:34]
Debu-debu beterbangan dengan ceria, melayang tanpa menyadari akan mengotori udara yang sudah sangat sumpek ini.
Aku duduk terdiam melihat para debu bercengkrama mesra diawang-awang
Jawabnya:
Harapan, keinginan dan kenyataan menjadi tak berujung dikala semua ingin diraih sekaligus.
Aku hanya bisa melakukan & bersabar atas semua 'proses' itu
Aku membalas:
Bersabar adalah salah satu meditasi diri terindah yang pernah dilakukan oleh anak manusia.
Selama proses itu dilakukan dalam penuh kesadaran.
Tapi kenyataan adalah kenyataan, tak ada yang dapat mengubah kenyataan, kecuali harapan yang ada dalam hati dapat terpenuhi...
Dia membalas:
Tapi ingat..
Kesadaran lahir dari dalam jiwa. Dia tak dapat dipaksakan atau dia akan terus terbelenggu dengan setiap fenomena yang muncul!
Akhirnya..hanya kehampaan!
Balasku:
Saat anak manusia melakukan tindakan atas dasar kesadaran jiwa,
maka tidak akan ada namanya kehampaan dalam keterpaksaan.
Namun, hanya tinggal mengikuti kemana kesadaran jiwa bertiup & melangkah selayaknya angin...
Dia terdiam hanya terdiam tidak menjawab apapun...
[JHCC, 12 Januari 2006, 18:34]
Friday, January 12, 2007
Friday, December 15, 2006
sejuta meteor berjatuhan tadi pagi
selaksa bintang yang biasa berkilau tadi malam
...menghilang...
perasaan hangat yang biasanya hadir setiap malam
telah membeku selayaknya musim dingin
Apakah dunia akan kiamat?
Kenapa cuaca berubah drastis?
Apakah yang sedang terjadi saat ini?
Sepertinya dunia khayalku yang sedang porak poranda
percuma mencari apa yang sedang terjadi
karna semua tidak tersisa lagi...
Duniaku telah KIAMAT
[MW, Hari kedua di bulan Mei duaribuenam, 15.04]
selaksa bintang yang biasa berkilau tadi malam
...menghilang...
perasaan hangat yang biasanya hadir setiap malam
telah membeku selayaknya musim dingin
Apakah dunia akan kiamat?
Kenapa cuaca berubah drastis?
Apakah yang sedang terjadi saat ini?
Sepertinya dunia khayalku yang sedang porak poranda
percuma mencari apa yang sedang terjadi
karna semua tidak tersisa lagi...
Duniaku telah KIAMAT
[MW, Hari kedua di bulan Mei duaribuenam, 15.04]
Sajak-sajakmu, dari hulu hingga hilir, mengalir tertib dan tenang, bahkan kadang rhe melihat sajak-sajakmu seperti pertapa yang tahan godaan. Sajak-sajakmu memang bersahaja, santun, tidak suka membuat orang kaget atau merinding. Barangkali itulah puitika yang telah kaupilih sebagai gaya pribadimu. Tak ada keliaran. Tak ada kesan mbeling dan urakan. Tak ada hasrat untuk main-main. Sajak-sajakmu seperti si bijak yang sedang membawakan renungan atau piwulang, bukan si nakal yang suka bikin sensasi. Sajak-sajakmu tidak bernafsu untuk mempertunjukkan permainan sirkus dan silat kata. Bagi rhe ini menarik dalam sajak-sajakmu rhe melihat kontradiksi antara gejolak jiwa dan kesantunan kata-kata.
Rhe
Rhe
Wednesday, December 06, 2006
Ditengah kesendirian dan merenung tentang segala hal yang telah terjadi dalam hidup. Terutama tentang suatu hal yang bernama dosa. Entah sudah berapa banyak noda ternoktah dalam jiwa ini.
mungkin saat ini aku tidak sendirian, karena rintik hujan baru saja datang menemani sendiriku.
Suara musisi Bono terdengar berbisik ditelinga dan tak lama diikuti oleh Andrea Bocelli yang mengalun begitu menenangkan jiwa yang kering.
apakah juga berdosa jika ingin merasakan hangatnya pelukan saat ini?
[MW, 2 Desember 2006, 00:07 =Kedinginan=]
mungkin saat ini aku tidak sendirian, karena rintik hujan baru saja datang menemani sendiriku.
Suara musisi Bono terdengar berbisik ditelinga dan tak lama diikuti oleh Andrea Bocelli yang mengalun begitu menenangkan jiwa yang kering.
apakah juga berdosa jika ingin merasakan hangatnya pelukan saat ini?
[MW, 2 Desember 2006, 00:07 =Kedinginan=]
Tuesday, November 28, 2006
Kaca jendela kamar seakan meleleh ikuti alur air yang mengalir jatuh. Padahal bukan kaca jendela yang terjatuh, melainkan bulir air hujan yang mampir membahasi kaca jendela.
Kembali termenung memandangi kaca jendela yang seakan meleleh. Kaki tertekuk untuk menopang dagu. Apakah yang akan datang setelah hujan reda?
Akankah pelangi bersinar? Atau hujan rintik-rintik akan menjadi badai? Dan aku akan hilang bersama air bah?
Mungkin akan lebih baik jika pada akhirnya aku menghilang seakan lenyap ditelan bumi. Mungkin orang-orang pun tidak akan pernah menyadarinya. Mungkin yang sadar hanya akan kehilangan sebentar, karena hidup ini berjalan terus.
Kembali lelehan air menyentuh kaca jendela, seakan berbisik melalui bunyi yang ditimbulkan. Bunyian alam yang terasa menemani sanubari yang sedang redup. Tidak ingin melakukan apapun, atau menghadapi apapun. Hanya berdiam diri, merenung dan tidur.
Mungkin jiwa ini sudah lelah,
Mungkin jiwa ini menangis,
Mungkin jiwa ini merindu,
Mungkin jiwa ini sebenarnya sudah MATI.
[MW, 28 Nopember 2006, 10:00 -G'bye Gran-]
Kembali termenung memandangi kaca jendela yang seakan meleleh. Kaki tertekuk untuk menopang dagu. Apakah yang akan datang setelah hujan reda?
Akankah pelangi bersinar? Atau hujan rintik-rintik akan menjadi badai? Dan aku akan hilang bersama air bah?
Mungkin akan lebih baik jika pada akhirnya aku menghilang seakan lenyap ditelan bumi. Mungkin orang-orang pun tidak akan pernah menyadarinya. Mungkin yang sadar hanya akan kehilangan sebentar, karena hidup ini berjalan terus.
Kembali lelehan air menyentuh kaca jendela, seakan berbisik melalui bunyi yang ditimbulkan. Bunyian alam yang terasa menemani sanubari yang sedang redup. Tidak ingin melakukan apapun, atau menghadapi apapun. Hanya berdiam diri, merenung dan tidur.
Mungkin jiwa ini sudah lelah,
Mungkin jiwa ini menangis,
Mungkin jiwa ini merindu,
Mungkin jiwa ini sebenarnya sudah MATI.
[MW, 28 Nopember 2006, 10:00 -G'bye Gran-]
Wednesday, October 11, 2006
Tuesday, October 03, 2006
= BENARKAH? =
Kangen?!
Perasaan apakah itu?
Apa benar perasaan?
Lalu bagaimana?
KANGEN!!
Boleh ketemu?
Tidak boleh!?
Kenapa?
Hmm…
Hanya sepenggal rasa…
Asa…
Gamang…
Yang tersisa…
Seandainya…
-kangen-
Perasaan apakah itu?
Apa benar perasaan?
Lalu bagaimana?
KANGEN!!
Boleh ketemu?
Tidak boleh!?
Kenapa?
Hmm…
Hanya sepenggal rasa…
Asa…
Gamang…
Yang tersisa…
Seandainya…
-kangen-
Subscribe to:
Posts (Atom)
MY FUTURE
It's all because of the past, we are where we are, right now. Yet, I am just thrilled to have your back, and face the future ...
-
Savoring you.. ...to the nothingness [MW - somewhere in the blog]