Saturday, August 30, 2003

Entah kenapa, kamu pasti selalu menjadi inspirasi bagiku untuk menulis...walaupun rasanya badan ini lemah dan panas dalam mengganggu. Ketika otak pun membeku dan tidak dapat diajak bekerja sama, namun tetap saja...jari-jariku tetap bekerja dengan baik...ketika membayangkan dirimu...

Suara yang membius menemani malam-malam kelabu dan dinding-dinding dingin dalam kamar. Kasur kapuk yang membuat sakit pinggang pun terasa bagaikan awan ketika mendengar suaramu yang membius sanubariku....sadarkah kau akan arti suaramu?

Akh...betapa aku merindukanmu sekarang...dimanakah kamu wahai kekasih? Akan kah waktu berlalu dan mempertemukan kita kembali dengan waktu yang akan berhenti berputar ketika kita bertemu? Akan kuceritakan pada dunia bahwa AKU MENYAYANGIMU!!


Penuh Cinta Kasih,
-Setia-

[MW, Sabtu, 30 Agustus 2003, 12.20]

Thursday, August 28, 2003

Diluar sana cuaca begitu cerah penuh dengan kehangatan bahkan terik. Sedangkan aku merasa bagaikan musim dingin didalam sini. Entah kenapa...

Ditambah lagi dengan perasaan gundah gulana yang kurasakan menghantuiku beberapa hari belakangan ini, entah apa yang akan terjadi...semoga bukan dia yang akan pergi tinggalkanku sendirian lagi...semoga juga bukan kamu yang akan mengambilnya kembali dari sisiku...aku telah nyaman bersamanya sekarang, memang masih butuh banyak sekali debat kusir didalam lingkaran ini...tapi mengetahui bahwa dia menyayangiku...itu sudah cukup...untuk saat ini...

Saat ini biarkan aku dapat memeluknya walau hanya satu malam, biarkan aku menangis meratapi kecemburuan tanpa alasan karenanya, biarkan aku tertawa bersamanya, biarkan aku bercanda dan bercinta bersamanya...terutama biarkan aku bahagia bersamanya jika hanya untuk sesaat....tapi jangan kau ambil dia dariku karena aku tak sanggup kehilangan lagi...

MenCintaiMu,
=Setia=

[MW, Rabu, 28 Agustus 2003, 15:10]

Tuesday, August 26, 2003

Sayang,

Maaf, jika baru sekarang aku memberi kabar kembali. Penat sedang menghantui harihari dibelakangku dan kesakitan pada tubuh mungilku pun menggantikan bayangan diriku. *sigh entah kenapa pasti seperti ini menjelang saatnya...seandainya tidak perlu ada tandatanda...alangkah enaknya...

Pa kabar, cintaku? Sibukkah dirimu sekarang? Tadi malam sepertinya hujan mengguyur kota yang tidak pernah tidur ini. Tanah basah dan harum tanah terasa menyengat hidung tadi pagi. Selagi aku bermimpi bergelung dalam pelukanmu...kapan akan terjadi? Semoga suatu saat akan menjadi kenyataan...

Berada di tempat baru ini membuatku sedikit lebih nyaman, walaupun jaring labalaba berada disekelilingku menyelubungi ruang gerak dan waktu...tapi aku yakin...bahwa engkau masih disana menemaniku senantiasa...kapanpun juga...karna ikatan yang terbuat dari perasaan tidak mudah putus...


Penuh Rasa,
=Sayang=

[MW, 26 Agustus 2003, 11:55]

Friday, August 22, 2003

Niat yang berasal dari hati adalah
Sesuatu yang tulus
Sesuatu yang murni untuk diungkapkan
Walau tanpa kata
Walau tanpa tindakan
Hanya dengan niat
Karna hanya dengan niat katanya
Dapat memindahkan gunung…
Mungkinkah?
Jika terdapat keraguan…
Mungkin niat itu tidak datang dari hati
Karna niat dari hati tidak akan pernah ragu…
Ragu untuk bertanya
Ragu untuk bicara
Ragu untuk salah
Ragu untuk benar
Ragu untuk berlaku
Ragu untuk bertindak…
Yang ada hanya mengikuti niat
Karna awalnya dimulai dengan niat,
Maka…
Jika tak ada niat,
Lebih baik tidak perlu bertindak, bicara, bertanya,
Bahkan merasa…

22 Agustus 2001
00.30
-inget omongan-

Monday, August 18, 2003

Entah bagaimana rasanya jika hari ini tak bersua. Ada kejanggalan rasanya dihati...entah dimana...dijiwa...entah direlung jantung terdalam...ingin kuraih asamu yang hilang tertiup angin surgawi. Dapatkah ku menjangkaunya?

Hari berganti seperti layaknya membalik sebuah halaman dalam buku, tapi tidak dapat diulang dari awal kembali untuk membacanya. Sanggupkah kau berjalan bersama tanpa harus dari awal cerita? Pelukan yang terasa bagaikan awan kini mungkin sudah berubah menjadi duri ditangkai bunga cantik yang senantiasa dikirim kan oleh para pecinta yang sedang mabuk.

Dimanakah kau harus kucari, Setia? Karna jika ku harus menghamba pada Kuasanya...mungkin...aku harus mati lebih dulu tanpa harus mengucapkan pisah darimu...semoga aku dapat lebih memberi cahaya kehangatan dalam hidupmu yang penuh dengan peluh dan debu...


Selalu menCINTAimu...
-Hening-

[MW, 1 hari setelah DIRGAHAYU, 2003]

Saturday, August 16, 2003

Siang sudah menjelang...terik matahari terasa menyengat diatas kepala, desiran angin panas pun menerpa wajah kusut yang lelah. Ingin rasanya memeluk dirimu yang juga lelah tak tertidur karna tugas menumpuk.

Apa yang bisa kulakukan cinta? Maukah engkau bersamaku hari ini? Kabar terbaru sudah kuterima...mengapa kau sembunyikan dariku? *sigh...Kapan akan kau ungkapkan misteri hati tersembunyi dikedalaman sana? Aku tak pernah menuntut apa-apa darimu, dan aku akan tetap bersabar sampai kau sampaikan sendiri salam cintamu untukku...

Enyahlah!! Kau setan pengganggu masa kelam dan kelabu, sudah saatnya kau masuk kembali kedalam kuburmu.

Sayang,
-Hening-

[MW, Menjelang Kemerdekaan, 2003]

Thursday, August 14, 2003

Sayang....siapakah gerangan berusaha menjadi dirimu? Menuliskan balasan surat cintaku untukmu... Apakah kau bercerita tentang dunia dan dimensi serta kota kita? Aku yakin tidak, tapi....entahlah...

Rasanya masih ada dalam detak jantung yang berpacu dengan waktu. Dengan katakata ini kuberitakan padamu apa yang Ia tulis disana....tidak ada misteri bukan?? Aku akan ceritakan dengan cinta jika kita bertemu dalam jajaran bintang jatuh nanti.

Selamat siang cinta...semoga saat ini engkau sedang memikirkan diriku...sempatkanlah dirimu untuk kembali sebentar dan melihat bilikmu, jikalau merpati pos...mengantar sesuatu yang istimewa dariku...


MencintaiMu,
-Sayang-

[MW, Rabu, 14 Agustus 2003, 12.18]

Tuesday, August 12, 2003

Terdengar lirih dikejauhan, katanya merpati tak pernah ingkar janji. Demikian juga aku berusaha sebijaksana mungkin mengikuti sifat seekor merpati yang selalu tepat membawakan berita, entah dalam suasana dan cuaca apapun. Merpati pasti tak pernah ingkar. Dapat kah kau?

Kucoba membawa berita baik, layaknya merpati pos cantik yang tak pernah ingkar janji. Namun, sepertinya kedatangan ku sebagai merpati membawa berita kejutan tak ada arti bagi dirimu yang jauh tinggi diatas sana. Dimana Elang dan Rajawali bersarang dan bermain diantara pucukpucuk gunung tertinggi, apadaya seekor merpati kecil dengan sayap yang mulai melemah membawa berita untuk yang terkasih?

Sebentar lagi kaum peri kecil akan mengangkat jiwanya lepas dari kesedihan, biarkan jasadnya turun bebas lepas jatuh ke Bumi. Karena tidak ada lagi yang peduli akan kehadiran seekor merpati yang tak pernah ingkar janji. Biarkan burungburung bangkai berkeliling memakan jasad kecilnya...tapi...jiwanya bebas bersama para peri terbang melewati Elang dan Rajawali sombong...yang hanya melirik sebelah mata pada merpati pos yang membawa berita...*keluh

Jiwa yang kering,
-Hening-

[MW, Selasa, 12 Agustus 2003, 11:42]
Hari telah menjelang ditempatku, sayang...Bintang telah berkelipkelip bersama gugusan warnawarni cahaya. Berpendar indah dalam keremangan. Tiba saatnya diriku berada diperaduan hangat dalam angkasa. Namun, sebelum aku pamit larut dalam mimpi bersamamu. Sekali lagi aku terangi hatimu dengan bait suci.

Bulan menyapa dengan ramah diatas sana, tersenyum memandang kita. Walaupun berbeda suasana dan tempat, seperti yang pernah kau ungkapkan bahwa rasa kita tidak terbatas oleh ruang dan waktu. Melainkan menjadikan Awan dan Bumi sebagai dasar dan rasa...

Kau pernah bilang bahwa jika kupandang hamparan langit luas, maka aku kan melihat kerinduanmu disana. Dan jika kupejamkan mata ini niscaya kurasakan betapa merindunya dirimu akan ku...Terimakasih atas bahasamu....niatmu tersampaikan dalam hati penuh cinta...


Cinta,
-Hening-

[MW, Selasa, 12 Agustus 2003, 19:38]
Selayaknya dunia yang tak terjamah dan hanya dalam bayangan kanak-kanak. Kucoba mengoyak isi kepala dengan kenangan masa lalu. Entah pada jaman apakah? Dikala meteor menerangi gelapnya angkasa raya. Disanalah kau berada. Sibuk bermain dengan keinginan.

Sedangkan aku hanya tersenyum memandangmu dikejauhan, tak ingin rasanya mengganggu kesenangan yang tercipta. Kunangkunang hadir menemani diriku, makin lama semakin banyak. Menciptakan cahaya kelapkelip indah. Penuhi sekujur tubuh. Dapatkah kau melihat kilau sayapnya, Setia?

Seseorang menulis surat cinta untukku. Entah siapakah dia? Mungkin salah satu pengamat diluar kegelapan sana. Terangilah kegelapan sana dengan kilauan meteor darimu. Atau biarkan saja dia mengirimkan itu semua....yang jelas aku tetap ada disini memandangmu dari kejauhan. *sigh


Merindukan Setiamu,
-Cinta -

[MW, Selasa, 12 Agustus 2003, 19:14]
Sayang, kamu tau gak? Aku melihat sosok itu duduk termenung disana. Sedang asik bersama tumpukan tembakau dihadapannya. Seru sekali dia membuat tingwe, sesekali ada yang menengok juga kesana. Tiba-tiba ada yang berkata "Lare sak niki mboten purun ndamel tingwe. Mbok menawi mboten pratis nggih"
Kembali ia asik dengan tembakau, kelembak dan menyan dihadapannya. Tak peduli dengan orang yang lalu lalang.

Keretek...keretek...keretek...bunyi lintingan tingwe yang dibakarnya. Memang tidak mungkin berbunyi cengkeh, karna dari bunyi itulah istilah keretek berasal, bunyi kemeretek itu. Tapi sekarang sudah jarang yang mau duduk bersamanya melinting rokok itu, semua maunya serba praktis...bau menyan membuat aroma di sekelilingnya. Ia memakai daun klobot dan enau kering sebagai pembungkus.

Sayang, pemandangan ini pasti mengingatkanmu dengan kampung halaman. Dimana masih terdengar suara magis seorang kakek menembang untuk cucunya dan suara kokok ayam membangunkan desa yang tak kalah hiruk pikuk dengan kebisingan ibukota...hanya terasa lebih damai, akrab dan tentram...

Jiwaku merindukanmu selalu...
-Hening-


MW, Selasa, 12 Agustus 2003, 10.13
========
Ide Tingwe, dari Hal. 1 Kompas...

Monday, August 11, 2003

Kupukupu cantik telah keluar dari kepompongnya, menyambut kehidupan baru di Bumi. Menyapa warnawarni bunga. Sedangkan, mentari pagi telah tinggi dilangit. Menyengat semua orang-orang yang berlalu dibawahnya. Saat ini aku merasa bahwa kau berubah menjadi bayangbayangku...entah sedang apapun kau sekarang...yang jelas aku merasakan kehadiranmu selalu.

sayang, larutkanlah dahagaku dengan kasihmu dan laparku dengan janjimu untuk kita. Dunia yang telah kita buat benar-benar antik, semoga tetap akan selalu menjadi milik kita berdua...entah sampai kapan...

Jangan ragukan rasa yang pernah kau kecap dalam kebersamaan yang cukup sulit untuk direalisasikan...tapi ketika itu tercapai maka jiwa-jiwa rapuh ini akan tetap melebur, melembut, meraung dan bersatu hingga...menjadi sebuah mahakarya indah...semua hanya bersamamu...


Cinta,
-Hening-

[MW, Senin, 11 Agustus 2003, 13:48]
===
Hiks...baru satu hari...miss u, ayang

Sunday, August 10, 2003

Dalam temaramnya suasana pagi, kembali aku menulis tentang dirimu, seakan merasakan kembali hadirmu disisi. Kamu telah pergi bersama terbitnya bayangan matahari pagi, kembali menuju peraduan damaimu ditengah kota tak bertuan. Sedangkan aku kembali ditinggalkan sendirian dalam sepi, bersama awan2 kelabu dan kabut putih yang perlahan turun pagi ini...

Celoteh mesra kicau burung diatas pohon mangga menemaniku terbangun dari buaian. Mencium harum kembang teh dalam gelas hangat2 kuku, mungkin terasa enak bergulir dalam kerongkongan kering pagi ini...sayang, apakah kau sudah sibuk melihat hiruk pikuk manusia yg berpapasan hari ini?

Seandainya bisa...ingin kembali rasanya bergelung dalam pelukan hangatmu... yang memang hampir tak pernah kurasakan...*sigh...ntahlah ada apa denganmu?? Kebersamaan yang jarang terjadi seharusnya menjadi sesuatu yang indah untuk dibagi dan dirasakan bukan? Tapi...aku tak pernah tau denganmu semua selalu terasa berbeda...yang penting aku cukup tau dengan segala yang kau coba buka dalam dirimu...kau sayang padaku....untuk saat ini sudah cukup...aku menginginkanmu saat ini bagaikan helaan nafas yang tak pernah terputus...

Cinta,
-Hening-


MW, Minggu, 10 Agustus 2003, 10:40

======
huhuhuh...jadi kangen niiyyy....

Saturday, August 09, 2003

Sayang...entah bagaimana lagi harus kuungkapkan perasaan yang sedang menggelora dalam dadaku kali ini. Mungkin hanya bagi orang2 yang pernah patah hati dan bangkit kembali menghadapi realita, yang akan mengerti apa yang kurasakan saat ini. Selayaknya sang surya hadir setiap pagi membangunkan bumi ini, demikian juga lah kurasakan begitu wajar berada disisimu kembali. Entah sampai kapan...selamanyakah?

Saat kutuliskan surat ini, daundaun dihalaman mulai berguguran, pertanda apakah? Sebentar lagi rasanya hujan pun akan turun, apakah yang sedang kau lakukan diluar sana? Adakah aku dalam benakmu yang berkutat dengan berbagai pola pikiran baru?

Cinta...tubuhku kembali bergetar mengingat kebersamaan kita, aku haus akan hadirmu...dapatkan kita kembali bersama secepat guntur bergemuruh setelah kilat menyapa bumi? Bagaikan tanah terbelah dan kering kerontang kehausan akan hujan, demikian juga jiwaku...yang telah kau hirup dalam setiap nafas membara.

Jalinan kasih tercipta karena memang nyata adanya...percayalah sayang...takkan lekang sayangku untukmu...

Belahan Jiwa,
-Hening-

MW, Sabtu, 9 Agustus 2003, 19.18

MY FUTURE

It's all because of the past,  we are where we are, right now.  Yet, I am just thrilled to have your back,  and face the future ...