Monday, January 15, 2007

TAK TERJAWAB

Aku menulis:
Debu-debu beterbangan dengan ceria, melayang tanpa menyadari akan mengotori udara yang sudah sangat sumpek ini.
Aku duduk terdiam melihat para debu bercengkrama mesra diawang-awang

Jawabnya:

Harapan, keinginan dan kenyataan menjadi tak berujung dikala semua ingin diraih sekaligus.
Aku hanya bisa melakukan & bersabar atas semua 'proses' itu

Aku membalas:
Bersabar adalah salah satu meditasi diri terindah yang pernah dilakukan oleh anak manusia.
Selama proses itu dilakukan dalam penuh kesadaran.
Tapi kenyataan adalah kenyataan, tak ada yang dapat mengubah kenyataan, kecuali harapan yang ada dalam hati dapat terpenuhi...

Dia membalas:
Tapi ingat..
Kesadaran lahir dari dalam jiwa. Dia tak dapat dipaksakan atau dia akan terus terbelenggu dengan setiap fenomena yang muncul!
Akhirnya..hanya kehampaan!

Balasku:
Saat anak manusia melakukan tindakan atas dasar kesadaran jiwa,
maka tidak akan ada namanya kehampaan dalam keterpaksaan.
Namun, hanya tinggal mengikuti kemana kesadaran jiwa bertiup & melangkah selayaknya angin...

Dia terdiam hanya terdiam tidak menjawab apapun...

[JHCC, 12 Januari 2006, 18:34]

Friday, January 12, 2007

Aku kembali pada kesepian yang melelahkan jiwa,
Entah sampai kapan para debu bercengkrama mesra dihadapan sosok mungil ini,
Kembali aku terdiam & berpikir...

Apa yang harus dipikir?

Kepala ini sudah PENAT!

Friday, December 15, 2006

sejuta meteor berjatuhan tadi pagi
selaksa bintang yang biasa berkilau tadi malam
...menghilang...
perasaan hangat yang biasanya hadir setiap malam
telah membeku selayaknya musim dingin

Apakah dunia akan kiamat?
Kenapa cuaca berubah drastis?
Apakah yang sedang terjadi saat ini?

Sepertinya dunia khayalku yang sedang porak poranda
percuma mencari apa yang sedang terjadi
karna semua tidak tersisa lagi...

Duniaku telah KIAMAT

[MW, Hari kedua di bulan Mei duaribuenam, 15.04]
Sajak-sajakmu, dari hulu hingga hilir, mengalir tertib dan tenang, bahkan kadang rhe melihat sajak-sajakmu seperti pertapa yang tahan godaan. Sajak-sajakmu memang bersahaja, santun, tidak suka membuat orang kaget atau merinding. Barangkali itulah puitika yang telah kaupilih sebagai gaya pribadimu. Tak ada keliaran. Tak ada kesan mbeling dan urakan. Tak ada hasrat untuk main-main. Sajak-sajakmu seperti si bijak yang sedang membawakan renungan atau piwulang, bukan si nakal yang suka bikin sensasi. Sajak-sajakmu tidak bernafsu untuk mempertunjukkan permainan sirkus dan silat kata. Bagi rhe ini menarik dalam sajak-sajakmu rhe melihat kontradiksi antara gejolak jiwa dan kesantunan kata-kata.

Rhe

Wednesday, December 06, 2006

Ditengah kesendirian dan merenung tentang segala hal yang telah terjadi dalam hidup. Terutama tentang suatu hal yang bernama dosa. Entah sudah berapa banyak noda ternoktah dalam jiwa ini.

mungkin saat ini aku tidak sendirian, karena rintik hujan baru saja datang menemani sendiriku.

Suara musisi Bono terdengar berbisik ditelinga dan tak lama diikuti oleh Andrea Bocelli yang mengalun begitu menenangkan jiwa yang kering.

apakah juga berdosa jika ingin merasakan hangatnya pelukan saat ini?

[MW, 2 Desember 2006, 00:07 =Kedinginan=]

Tuesday, November 28, 2006

Kaca jendela kamar seakan meleleh ikuti alur air yang mengalir jatuh. Padahal bukan kaca jendela yang terjatuh, melainkan bulir air hujan yang mampir membahasi kaca jendela.

Kembali termenung memandangi kaca jendela yang seakan meleleh. Kaki tertekuk untuk menopang dagu. Apakah yang akan datang setelah hujan reda?
Akankah pelangi bersinar? Atau hujan rintik-rintik akan menjadi badai? Dan aku akan hilang bersama air bah?

Mungkin akan lebih baik jika pada akhirnya aku menghilang seakan lenyap ditelan bumi. Mungkin orang-orang pun tidak akan pernah menyadarinya. Mungkin yang sadar hanya akan kehilangan sebentar, karena hidup ini berjalan terus.

Kembali lelehan air menyentuh kaca jendela, seakan berbisik melalui bunyi yang ditimbulkan. Bunyian alam yang terasa menemani sanubari yang sedang redup. Tidak ingin melakukan apapun, atau menghadapi apapun. Hanya berdiam diri, merenung dan tidur.

Mungkin jiwa ini sudah lelah,
Mungkin jiwa ini menangis,
Mungkin jiwa ini merindu,


Mungkin jiwa ini sebenarnya sudah MATI.

[MW, 28 Nopember 2006, 10:00 -G'bye Gran-]

Wednesday, October 11, 2006

erangan jiwa bergaung dalam sanubari,
selayaknya lolongan anjing di malam purnama,
saat ku tahu kau telah pergi...

[MW, 11 Oktober 2006, 10:19]

Tuesday, October 03, 2006

= BENARKAH? =

Kangen?!
Perasaan apakah itu?
Apa benar perasaan?
Lalu bagaimana?
KANGEN!!
Boleh ketemu?
Tidak boleh!?
Kenapa?
Hmm…
Hanya sepenggal rasa…
Asa…
Gamang…
Yang tersisa…
Seandainya…


-kangen-

Friday, September 29, 2006

Jika sudah tidak ada lagi langit dan hanya ada kegelapan
kita pasti tetap bisa bertemu karena hati yang bercahaya menuntun kita

[MW, 29 September 2006]

= ALAM =

Wewangian alam…
Harum tanah sehabis hujan…
Menggelitik hidung…
Harum rumput basah…
Sehabis hujan…
Menggoda kaki tanpa alas…
Segar…
Tentram…
Damai rasanya…
Tanah yang basah…
Butiran-butiran air didaun tertinggal…
Bagian dari alamkah aku?!
Lalu…kamu bagaimana?


-habis hujan-

Tuesday, September 26, 2006

Jika aku melihat airmata mengalir,
aku tau kalau hidup memang penuh cobaan,
biarkanlah airmatamu mengalir saat ini,
karena aku ada untuk mengeringkannya


[Goong]

MY FUTURE

It's all because of the past,  we are where we are, right now.  Yet, I am just thrilled to have your back,  and face the future ...